sumber gambar: https://editorialrxpress.com/book-readers-today/
Belum lama ini saya sedang membaca beberapa buku tentang strategi
jualan online via medsos dan blog pribadi. Bacaan yang jauh berbeda
dari buku yang selama ini saya baca. Mungkin karena memang sekarang
sedang menjalankan usaha dan memang perlu strategi marketing online,
saya memutuskan untuk belajar dari pengalaman pengusaha yang memang
sukses memasarkan produk maupun jasa mereka melalui media ini.
Nah… karena kebiasaan itu ada beberapa teman yang sering
berkomentar. “tumben baca buku kaya gini?” Ada juga yang
meremehkan bacaan yang sedang saya baca “emang bakalan berhasil
kalau ngikutin tips-tips dari buku kaya gini?”. Yah...seorang temen
juga ada yang dikritik karena hobby baca buku teenlit sementara dia
mengambil studi sastra. Sejak kapan anak sastra nggak boleh baca
novel teenlit. Sejak kapan ada keharusan anak sastra baca novel
sastra atau puisi yang berat. Sejak kapan pula seorang aktivis hanya
boleh baca buku filsafat atau surat kabar yang terkadang membosankan.
Gambaran di atas adalah salah satu dari bentuk book shaming. Apa sih
book shaming itu? Book shaming adalah tindakan menghakimi bacaan
seseorang dengan mengklaim gendre a lebih baik dari genre b, penulis
a lebih baik dari penulis b, pokoknya membanding-bandingkan satu buku
dengan buku lain yang sedang dibaca seseorang. Book shaming sendiri
justru membuat aktivitas membaca menjadi tidak merdeka.
Tidak hanya masalah gendre dan penulis buku saja yang sering
dipermasalahkan. Dalam sebuah kelompok membaca jumlah buku per tahun
yang selesai dibaca pun sempat dijadikan bahan untuk book shaming.
Seberapa banyak yang bisa kamu baca seolah-olah memberi kepuasan
tersendiri dan tidak sedikit dari beberapa teman yang ikut dalam
kelompok membaca (online) ini yang tidak mau memberi tahu berapa
judul buku yang berhasil mereka tamatkan dalam satu tahun. Bahkan
berbohong masalah jumlah judul buku tersebut. Secara nggak langsung
justru melakukan book shaming terhadap diri sendiri kan.
Merasa paling pintar setelah menyelesaikan buku dengan gendre yang
sulit. Tidak sedikit orang yang menyombongkan diri setelah berhasil
merampungkan buku yang sulit dipahami. Kita sadari bahwa aktivitas
membaca adalah aktivitas mencari ilmu, tapi jangan sampai aktivitas
tersebut justru menjebak kita dengan mengagung-agungkan ilmu dari
satu buku yang sebenarnya di luar sana masih banyak yang belum kita
ketahui. Book shaming terhadap diri sendiri justru menjebak kita
dalam ketidaktahuan.
Pada intinya book shaming tidak hanya dilakukan oleh orang lain tapi
bisa juga dari diri kita sendiri. Nggak jarang juga kan ada yang
berkecil hati atau malu kalau ketahuan baca buku k-pop. Ada juga
yang baca novel teenlit diem-diem, dan ada juga yang suka dan bangga
baca buku biografi tokoh tapi anti sama gendre buku lain.
Yah… apa pun jenis bacaan yang kita baca, baik karena memang suka,
butuh, atau tuntutan. Siapa pun penulis bukunya, jangan sampai kita
merasa lebih pintar, lebih rendah, atau bahkan menghakimi seseorang
dan bacaan yang mereka baca. Buatlah aktivitas membaca semerdeka kita
bernafas, karena semua buku, mulai dari bacaan yang berat sampai
bacaan aye aye memang ada untuk dibaca. Merdekalah dan merdekakan aktivitas
membaca tanpa book shaming.

Komentar
Posting Komentar